Dikira Gudang Kosong, Pabrik di Semarang Ternyata Simpan Narkoba 1,8 Ton, Ada Jutaan Butir Zenith

7 jam yang lalu

Ringkasan Berita:
Pabrik narkoba terselubung di Semarang, disamarkan sebagai gudang kosong untuk menghindari kecurigaan

• Kasus bermula dari penangkapan pria berinisial P di Penjaringan dengan 120.000 butir Zenith, yang mengarah ke jaringan lebih besar

•Tersangka utama berinisial D ditangkap di Semarang, bersama fasilitas produksi lengkap seperti mesin cetak otomatis

Jakarta _ Suarapubliknews.web.id Sebuah gudang yang tampak biasa di sudut Kecamatan Mijen, Semarang, ternyata menyimpan aktivitas gelap berskala besar.

Di balik kesunyian bangunan itu, jaringan narkotika menjalankan produksi masif yang nyaris tak terdeteksi hingga akhirnya aparat kepolisian membongkarnya.

Terkuak dari Penangkapan di Jakarta
Pengungkapan kasus ini merupakan hasil kerja gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Barat. Awalnya, polisi menerima laporan masyarakat terkait peredaran obat berbahaya di wilayah Jakarta Barat.

Penyelidikan mengarah pada penangkapan seorang pria berinisial P di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.

"Melalui serangkaian penyelidikan dan pengintaian, petugas mula-mula mengamankan seorang pria berinisial P di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, dengan barang bukti 120.000 butir Zenith," kata Budi Hermanto.

Dari titik ini, benang merah jaringan mulai terurai.

Memburu Otak Utama Hingga ke Semarang
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa P hanyalah kurir yang bekerja di bawah kendali tersangka utama berinisial D. Sosok ini diduga mengendalikan operasi produksi dari luar kota.

Tim kemudian bergerak cepat ke Semarang untuk melakukan pengembangan kasus. Pada Kamis (9/4/2026), D berhasil ditangkap di kediamannya.

Penangkapan tersebut sekaligus membuka tabir keberadaan pabrik narkotika yang disamarkan sebagai gudang kosong.

Polisi gerebek pabrik narkoba terselubung di Semarang, disamarkan sebagai gudang kosong untuk menghindari kecurigaan. 

Sitaan Fantastis: Jutaan Butir Siap Edar
Di lokasi penggerebekan, aparat menemukan skala produksi yang mencengangkan. Ribuan hingga jutaan butir obat terlarang diproduksi secara sistematis.

"Di lokasi tersebut, polisi menyita 186.000 butir tablet Zenith siap edar serta 1,83 ton bahan baku prekursor yang siap dicetak menjadi jutaan butir obat terlarang," kata Budi.

Selain itu, polisi juga mengamankan berbagai peralatan produksi modern, mulai dari mesin cetak otomatis hingga alat pengolah bahan kimia.

Ancaman Besar bagi Generasi Muda
Lebih dari sekadar angka, pengungkapan ini menyelamatkan potensi korban dalam jumlah sangat besar. Jaringan ini disebut menargetkan kalangan remaja hingga pekerja sebagai pasar utama.

"Keberhasilan menggagalkan peredaran lebih dari 4,3 juta butir Zenith ini secara langsung telah menyelamatkan sedikitnya 4,3 juta jiwa anak bangsa dari risiko kerusakan saraf permanen hingga kematian," imbuh Budi.

Skala produksi yang besar menunjukkan bahwa jaringan ini bukan pemain kecil, melainkan sindikat terorganisasi dengan daya rusak tinggi.

Perburuan Belum Usai
Meski pelaku utama telah diamankan, polisi menegaskan bahwa pengembangan kasus masih terus dilakukan. Sejumlah nama lain telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Penyidik masih terus melakukan pengembangan di lapangan guna memburu sejumlah orang yang telah ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) untuk memastikan sindikat ini dibongkar hingga ke akarnya," ucap Budi.

Ajakan Perang Melawan Narkoba
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa peredaran narkotika masih mengintai di berbagai lapisan masyarakat. Polisi pun mengajak seluruh elemen untuk ikut berperan aktif dalam pencegahan.

"Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat ketahanan keluarga dan lingkungan terhadap bahaya narkoba.

Kerja sama antara Polri dan masyarakat adalah kunci utama dalam menciptakan ruang publik yang aman, sehat, dan bebas dari peredaran gelap narkotika," katanya.

Para tersangka kini telah diamankan dan dijerat dengan undang-undang yang berlaku, dengan ancaman pidana maksimal.

Sementara itu, aparat terus bergerak membongkar jaringan hingga ke akar, memastikan tak ada lagi “pabrik senyap” yang mengancam masa depan generasi bangsa.

(Red/Leni. Tj)