6 jam yang lalu
Ringkasan Berita:
• Penumpang yang selamat dari kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek berikan kesaksian
Ia merasa ada yang tak beres sebelum terjadinya kecelakaan
• Tiba-tiba saja ia mendengar suara dentuman keras hingga penumpang di dalam KRL terpental
Bekasi_Suarapubliknews.web.id Desi Budianti (50) masih tampak diliputi rasa shock setelah kejadian itu.
Ia duduk bersandar di kursi stasiun, berusaha menenangkan diri di tengah suasana yang belum sepenuhnya pulih.
Sesekali, tangannya meraih ponsel dan menatap layarnya tanpa fokus yang jelas.
Matanya terlihat berkaca-kaca, menyiratkan trauma yang belum hilang.
Ketika seseorang di dekatnya mencoba mengajak berbincang, Desi hanya merespons seperlunya.
Perempuan itu diketahui sebagai penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) yang berhasil selamat dari insiden tragis tersebut.
Peristiwa nahas itu terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Senin (27/4/2026) malam.
Kecelakaan melibatkan tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek.
Hingga kini, insiden tersebut tercatat menewaskan 14 penumpang.
Sementara itu, sebanyak 85 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Ada yang tak beres
Malam itu, Desi hendak pulang ke rumahnya di Cikarang setelah dari Jakarta.
KRL merupakan transportasi andalannya untuk beraktivitas di Ibu Kota Jakarta.
"Ibu biasanya di gerbong lima kalau naik kereta, dari Jakarta mau pulang ke Cikarang," kata Desi kepada awak media
Sebelum tabrakan maut, suasana di dalam rangkaian kereta yang dia tumpangi memang sudah mulai tak beres.
Desi merasa ada yang tak beres karena rangkaian keretanya tertahan di Stasiun Bekasi Timur cukup lama.
Alasan tertahan karena ada insiden kecelakaan mobil taksi tertemper rangkaian KRL dari arah Cikarang ke Jakarta di perlintasan Jalan Ampera.
"Ternyata kan kereta itu ada yang kesrempet kereta apa ditabrak kereta, tapi di jalur lain, jalur sebelah sana," ucap Desi.
Penumpang di gerbong Desi duduk cukup ramai tetapi tidak padat.
Keresahan mulai menyelimuti lantaran KRL tertahan sudah cukup lama.
Di tengah keresahan lelah menunggu KRL tertahan, suasana tiba-tiba riuh setelah suara benturan keras terdengar dari gerbong belakang dari arah datangnya kereta.
"Kereta (KRL) kan berhenti lama, tiba-tiba 'brak' aja suaranya keras," ucap Desi.
Suara bentuan keras itu bahkan sampai membuat sejumlah penumpang KRL terpental, suasana langsung berubah seketika.
"Ya keras lah (suara benturan), orang pada mental semua! Itu bapak-bapak di depan Ibu juga semua mental," jelas dia.
Selamatkan diri
Lampu KRL padam, Desi dan penumpang lain mulai mencari jalan keluar.
Hanya satu pintu yang terbuka di gerbong lima.
Desi duduk di kursi prioritas, agak jauh dari pintu yang terbuka.
Dia langsung lari menyelamatkan diri bersama penumpang lainnya.
"Kita orang langsung pada nyari jalan untuk keluar. Kan ada sebagian kan gerbong itu pintunya tertutup, di gerbong lima cuma satu doang yang terbuka" ucap dia.
Setelah berhasil keluar dari kereta, Desi dan penumpang lain baru mengetahui kondisi mengerikan terjadi di gerbong paling belakang.
KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong khusus wanita KRL Jakarta-Cikarang, bagian lokomotif kereta jarak jauh itu bahkan merangsek masuk ke dalam gerbong.
Puing dan pecahan kaca berserakan, Desi saat itu belum langsung beranjak pergi.
Dia melihat ada sejumlah penumpang kesakitan.
Desi berusaha menolong seorang wanita yang mengalami luka parah di bagian paha.
"Ibu nolongin dua doang, orang Ibu juga gemeteran gimana melihat cewek itu pahanya semua dagingnya kelupas semua," kata Desi.
(Lenie Tanjung)