Jumat, 22 Mei 2026 19:12 WIB
Gunung Kawi
Malang - Suarapubliknews web.id Gunung Kawi yang selama ini lekat dengan mitos pesugihan berhasil dibongkar oleh si Pesulap Merah, Marcel Radhival.
Setelah melakukan penulusuran langsung terhadap Keraton Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Pesulap Merah atau Marcel Radhival justru menyimpulkan tempat tersebut bukan sarang jin, maupun lokasi pemujaan setan seperti yang banyak dipercaya masyarakat.
Marcel Radhival mengunjungi Keraton Gunung Kawi untuk menjawab rasa penasaran netizen terkait dugaan praktik pesugihan dan penggunaan tumbal di lokasi yang selama ini dikenal sebagai salah satu tempat ritual paling populer di Indonesia.
Dalam penelusurannya, Marcel menemui langsung juru kunci setempat untuk menggali informasi mengenai aktivitas yang dilakukan para pengunjung.
Dari hasil percakapan tersebut, Marcel mengaku menemukan fakta yang berbeda dari anggapan masyarakat selama ini.
"Banyak netizen ngajak saya untuk ungkap pesugihan Gunung Kawi apa pakai tumbal dan semacamnya. Setelah saya ngobrol-ngobrol sama kuncen juru kunci, dan luar biasanya juru kunci ini ngomong tidak pakai inisial-inisial ketika ditanya, dia ceplas-ceplos saja sebut nama," ujar Marcel menceritakan awal penelusurannya itu.
Menurut penjelasan si juru kunci, ritual yang dilakukan di Keraton Gunung Kawi mewajibkan peziarah membawa bunga dan dupa sebagai sarana menyampaikan doa serta harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Marcel kemudian menegaskan bahwa aktivitas tersebut merupakan bagian dari tradisi kejawen dan bukan ritual pemanggilan makhluk gaib seperti yang selama ini banyak dibayangkan publik.
Ia juga sempat mendengar pengakuan juru kunci yang menyebut sejumlah tokoh publik pernah datang ke lokasi tersebut. Namun Marcel mengaku tidak bisa memastikan kebenaran seluruh klaim tersebut.
"Setelah saya upload (video eksplore Keraton Gunung Kawi), ternyata kuncen berbicara seperti itu bukan kali ini saja. Nama-nama yang disebutkan, di video teman saya yang juga meminta wawancara kuncen, juga menyebutkan nama-nama yang sama. Jadi sudah disebutkan jauh-jauh hari sama si kuncen ini," jelas Marcel.
Karena itu, Marcel mengaku lebih tertarik membahas substansi ritual yang berlangsung di lokasi dibanding memperdebatkan daftar nama tokoh yang disebut pernah datang ke Gunung Kawi.
Pada akhirnya, Marcel menyimpulkan bahwa Keraton Gunung Kawi bukan tempat pemujaan setan ataupun sarang jin. Namun ia tetap mengingatkan masyarakat untuk menjalankan keyakinan sesuai ajaran agama masing-masing.
"Karena sebenarnya itu bukan ritual jin-jin, bukan, tapi itu ritual kepercayaan Kejawen. Kalau kita yang muslim ya tentu tidak boleh menjalankan hal semacam itu, karena itu merupakan kepercayaan kejawen," tandasnya.
Kehadiran si Pesulap Merah di Gunung Kawi juga ditegaskan tidak untuk merusak adat, melainkan untuk mengedukasi masyarakat.
"Saya datang ke sini bukan untuk merusak adat, melainkan untuk mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan mana tempat bersejarah yang harus dihormati dan mana oknum yang memanfaatkan tempat ini untuk penipuan mistis atau pesugihan abal-abal. Berpikir logis itu perlu agar kita tidak mudah tertipu," kata Pesulap Merah,
Kedatangan Marcel pun mendapat respons positif dari pihak pengelola dan sesepuh kawasan Keraton Gunung Kawi. Mereka menyambut baik edukasi tersebut dengan harapan bisa mengubah sudut pandang wisatawan yang datang.
Menguak Ritual Pesugihan di Gunung Kawi
Saat mendatangi sebuah bangunan bersama juru kunci, Marcel menemukan beberapa hal yang mengejutkan. Mulai dari tempat menaruh sesajen, dupa, foto, patung, susunan batu, hingga gua penuh sesajen di dekat prasasti berdirinya keraton.
Menariknya, Marcel juga menemukan buku tamu yang memuat nama-nama orang yang pernah berkunjung ke sana untuk mencari peruntungan.
"Ada daftar buku tamu, ada usaha rental mobil dan MBG. Ada di sini," ucap Marcel sambil menunjuk daftar buku tamu tersebut.
Selain menelusuri gua dan patung Hanoman, Marcel juga mendatangi sejumlah makam yang berkaitan dengan kepercayaan kejawen. Dari hasil penelusurannya, Marcel menyimpulkan banyak praktik ritual di lokasi tersebut yang sudah keluar dari ajaran agama, khususnya Islam.
"Ini ada makam kejawen, yang sebenarnya dalam Islam tidak boleh. Apalagi meminta-minta atau ngalap berkah. Dari hasil eksplore, bisa dilihat ada kepercayaan-kepercayaan di luar Islam itu sendiri.
Dan bahkan dari keterangan orang-orang yang menjalankan ritual, itu memang mereka memintanya ke kuburan. Dan bagi umat muslim, minta ke kuburan itu memang tidak diperbolehkan, karena itu bagian dari musyrik," tegasnya.
Berdasarkan hasil wawancaranya dengan juru kunci, Marcel mengungkapkan bahwa destinasi tersebut kerap dikunjungi untuk tujuan ngalap berkah. Namun, perkara menjadi kaya raya atau sukses sebenarnya kembali pada nasib masing-masing orang.
"Kalau kita dengarkan dari juru kuncinya, pesugihan di sana atau ngalap berkah bahasanya itu pasti kaya raya tetapi tergantung nasib. Kalau tergantung nasib, apa bedanya dengan kita berdoa?" cetus Marcel.
Ia menambahkan, masyarakat lokal Malang sendiri sebenarnya banyak yang tidak memercayai adanya pesugihan di Keraton Gunung Kawi.
"Orang Malang sendiri tidak percaya ada pesugihan. Yang katanya berhasil, karena nasib mereka. Bukan karena faktor dari Gunung Kawi," tandasnya.
Setelah melakukan perjalanan panjang di Keraton Gunung Kawi, Marcel menyarankan masyarakat untuk tidak perlu menguras tenaga, waktu, dan biaya demi melakukan ritual yang melenceng dari agama.
Ia pun mengimbau agar semua orang memanjatkan doa sesuai dengan ajaran kepercayaan masing-masing. Kendati demikian, Marcel tetap merekomendasikan Keraton Gunung Kawi untuk dikunjungi. Bukan untuk ritual pesugihan, melainkan sebagai destinasi edukasi budaya.
"Kalau datang ke sini, sangat rekomendasi untuk belajar sejarah dan budayanya," pungkas Marcel.
(Red)