2 jam yang lalu
Cegah Tragedi Bekasi Terulang, Bupati Karawang Usul Pembangunan Underpass di Enam Perlintasan
BEKASI-Suarapubliknews.web.id Bupati Karawang, Aep Syaepuloh bergerak cepat merespons kecelakaan kereta api di Bekasi Timur.
Tak ingin insiden serupa terjadi, Bupati Aep mengusulkan pembangunan underpass di enam titik perlintasan kereta api di wilayahnya.
Aep menyebut, pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah perlintasan rawan yang membutuhkan penanganan serius, yakni di kawasan Tanjungpura, Tuparev, Johar, Kosambi, Pancawati, dan Cikampek.
Ia berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dapat turun tangan melakukan intervensi, sejalan dengan arahan Presiden terkait peningkatan keselamatan transportasi.
"Aep sudah meminta Dinas PUPR Karawang menyusun daftar prioritas perlintasan yang akan diusulkan, termasuk skema pembiayaannya," kata Aep di Karawang Barat pada Jumat (1/5/2026).
Aep menerangkan, seluruh titik tetap akan diajukan ke pemerintah pusat agar dapat segera direalisasikan. Meski demikian dari enam titik tersebut, perlintasan di ruas Tuparev hingga Kosambi menjadi prioritas utama penanganan.
"Dua titik kami usahakan pakai APBD Karawang karena prioritas juga," jelas Aep.
Aep juga menegaskan pilihannya pada pembangunan underpass dibandingkan fly over.
Selain dinilai lebih hemat biaya, underpass dianggap memiliki dampak visual yang lebih minimal terhadap kawasan sekitar.
"Yang penting adalah keselamatan masyarakat. Kita ingin ada solusi nyata agar perlintasan ini tidak lagi membahayakan," katanya.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif untuk menekan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang, sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan dan transportasi kereta api di Karawang.
"Termasuk Aep sudah minta ke Dishub data perlintasan tanpa palang pintu yang kecil-kecil biasa dilintasi motor," kata Aep.
Diketahui 2 kereta yakni Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter line dan KA Argo Bromo Anggrek tabrakan pada Senin (27/4/2026) malam.
Tabrakan diduga karena sebuah KRL menabrak taksi listrik yang melintas di perlintasan sebidang ilegal di dekat Stasiun Bekasi Timur.
Akibat tabrakan KRL dan taksi, KRL lain terhenti di Stasiun Bekasi Timur hingga tiba-tiba KA Argo Bromo Anggrek melintas dan menabrak gerbong belakang KRL hingga remuk.
PT KAI mencatat terdapat 106 penumpang yang menjadi korban kecelakaan kereta di stasiun Bekasi Timur.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, ratusan korban itu terdiri dari yang meninggal dunia, dan luka-luka.
"Korbab meninggal dunia maupun yang luka-luka adalah sejumlah 106 penumpang.
Kemudian yang meninggal dunia 15 penumpang dan yang luka-luka 91," kata Bobby saat conference pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026) pagi sekira pukul 08.00 WIB.
Bobby menjelaskan, dari puluhan korban luka-luka, beberapa sudah kembali ke kediaman masing-masing.
Ia pun berharap terhadap para korban yang masih dirawat intensif di sejumlah Rumah Sakit (RS) dapat diberikan kesembuhan.
"Dari 91 penumpang yang luka-luka, 38 penumpang sudah kembali," jelasnya.
Namun, Per Rabu (29/4/2026) sekira pukul 09.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia bertambah satu menjadi 16.
Korban meninggal dunia selanjutnya adalah Mia Citra (25).
Mia meninggal dunia usai sempat mendapat perawatan intensif di ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, Kecamatan Bekasi Selatan, sejak Selasa (28/4/2026) pagi.
Sebelum dirawat intensif, Mia dikabarkan sempat terjebak di gerbong Commuter Line imbas kecelakaan kereta terjadi.
(Redaksi)